moral of the movies


I got a disaster in my progress presentation final assignment, “modelnya salah, ulang lagi dari awal.” Because it was the third times mistake of the model, id like to have my day off dulu. Jadilah Saya nonton bodyguards and assasins sendirian. Cukup menyenangkan ternyata. Saya jadi bisa meresapi makna film tersebut. Di film tersebut diceritakan mengenai pemikiran Dr. Sun Yat-Sen untuk merubah China yang merupakan jajahan negara barat menjadi negara republik yang merdeka dan sejahtera. Pemikiran tersebut disebarkan melalui buku dan koran yang diterbitkan oleh percetakan China Daily yang didanai oleh pengusaha Li Yu Tang. Pengusaha ini bersedia membiayai percetakan dengan satu syarat putranya tidak boleh terlibat dengan apapun yang diterbitkan percetakan ini. Namun sayangnya putra tunggal Li Yu Tang, Li Chong Guang sependapat dengan Dr. Sun Yat-Sen. Ia membagikan selebaran yang berisi pemikiran sang Dokter kepada kaum pria muda terpelajar.

Pada saat yang sama tersiar kabar bahwa dengan berakhirnya masa pengasingan Dr. Sun Yat-Sen, pertemuan untuk menyusun rencana pemberontakan diadakan dengan kaum cendekiawan yang berasal dari propinsi-propinsi di China, seperti Guangzhou. Rencana revolusi dilakukan untuk menggulingkan Dinasti Qing. Fang Tian, jendral besar China yang menganggap  adalah pengkhianat negara, karena menganut pemikiran barat, mengutus para pembunuh untuk membunuh sang Dokter begitu beliau turun dari kapal pengasingan. Li Yu Tang sempat tidak mau berurusan dengan hal ini, tetapi kemudian memutuskan untuk melindungi sang Dokter dengan cara menyewa bodyguard yang terdiri dari penarik becak (rickshaw)-A Si, biksu yang terusir dan menjadi penjual stinky tofu untuk menyambung hidup-Wang Fuming, gadis pemain opera yang menuntut pembalasan dendam ayahnya-Fang Hong, pengemis yang mendapatkan kesempatan untuk mengembalikan kehormatan dirinya-Liu Yubai, hingga polisi penggila judi yang berganti pihak di saat-saat terakhir atas desakan mantan istrinya-Shen Chongyang.

Li Yu Tang meminta putranya, agar diam di rumah saja saat sang Dokter berada di kota tersebut, karena kondisi di luar tidak aman. Li Chong Guang tersenyum dan mengiyakan permintaan ayahnya. Pada adegan ini digambarkan betapa besar rasa sayang keduanya. Namun malangnya bagi Li Yu Tang, Chen Shaobai-pemimpin redaksi China Daily melakukan pengundian di antara stafnya untuk menjadi peniru Dr. Sun Yat-Sen, yang berfungsi sebagai pengalih perhatian para pembunuh dari tempat diadakannya pertemuan antara sang Dokter dengan kaum cendekiawan. Li Chong Guang mendapat kehormatan tersebut, sementara Chen Shaobai baru tahu bahwa Li Chong Guang ikut undian tersebut. Sang pimred memerintahkan undian ulang karena janjinya dengan sang pengusaha, tapi Chong Guang menolak. “Ini adalah titik balik dalam sejarah. Haruskah aku berpangku tangan, sementara mereka boleh ikut serta?” Dengan berat hati sang pimred memberikan ijin, karena Chong Guang adalah murid kesayangannya dan resiko selamat dari tugas ini sangat kecil. Film berakhir dengan pertemuan berhasil dilakukan hingga tuntas, Dr. Sun Yat-Sen berhasil pulang ke kapal pengasingan tanpa diikuti pembunuh, Li Yu Tang serta Chen Shaobai tetap hidup, sementara yang lainnya tewas saat bertugas, revolusi pemberontakan berhasil dilakukan, dan Dinasti Qing berhasil dijatuhkan.

Moral yang Saya ambil dari film ini adalah: Chong Guang sangat sayang kepada ayahnya, namun kesetiaannya kepada negara jauh lebih besar daripada rasa sayangnya kepada ayahnya. Saya jadi berkesimpulan bahwa kesetiaan terhadap hal lain yang lebih besar bisa menghentikan kesetiaan yang ada sekarang. Contohnya seseorang memutuskan kekasih yang sudah lama dipacarinya karena kesetiaannya terhadap orang tua (orangtua tidak setuju)/karena kesetiaan terhadap agama (pacaran beda agama). Saya putus karena saya tak mau menghianati rasa sayang saya terhadap dia. Jika diteruskan, Saya akan menjadi seseorang dimana Saya tidak ingin menjadi seperti itu. Moral keduanya adalah perjuangan kemerdekaan yang dipromotori oleh tokoh revolusioner memerlukan pengorbanan berupa darah dari orang-orang yang tidak dia kenal, bahkan tidak pernah ia lihat wajahnya. And for Dr. Sun Yat-Sen in this movie, he dropped his tears for that. That’s so deep touching me.

5 thoughts on “moral of the movies

  1. Haldi December 31, 2009 / 7:48 am

    bisa comment kan??!!!

    • travellingaddict December 31, 2009 / 12:28 pm

      bisa ternyata

  2. Hardi Uco April 5, 2010 / 1:32 pm

    suka Bola juga Fia..

  3. travellingaddict April 28, 2010 / 9:55 pm

    aku suka bola, apalagi piala dunia -siapa yang ga suka sih? haha

  4. Taruhan Bola August 22, 2013 / 1:48 pm

    My partner and I stumbled over here coming from
    a different page and thought I might as well check things out.
    I like what I see so now i’m following you. Look forward to looking at your web page repeatedly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s