Wisata Candi Cangkuang-Garut


Hari minggu pagi, saatnya wisata jelajah! Saya memutuskan untuk pergi ke Candi Cangkuang, Garut, karena selain tempatnya dekat, juga wisata budaya tidak menghabiskan bujet besar. Setelah berkendara kurang lebih satu setengah jam, Saya tiba di Garut. Sebelum memasuki Kota Garut, ada tulisan Candi Cangkuang belok kiri. Jalan menuju candi ini agak kecil, tetapi mulus, dan agak jauh. Sesampainya disana, setelah membayar Rp 3.500,00 Saya naik gethek (rakit) menuju ke daratan kecil di tengah danau.  Candi Cangkuang berada di daratan tersebut. Teman Saya yang notabene Urang Sunda pernah berkata, di Dataran Sunda, jika ada daratan di tengah danau, maka itu adalah tempat perisitirahatan terakhir (makam).

1 buah gethek muat hingga 15 orang, Saya menunggu rombongan, agar bisa membayar murah (Rp 3.500,00 pulang pergi). Jika ingin menyewa gethek, Anda harus merogoh kocek sebesar Rp 45.000,00-Rp 70.000,00. Saat akan berangkat, lihat nomor perahu Anda, sehingga Anda tahu saat akan pulang harus naik kapal yang mana. hal ini dimaksudkan untuk mempermudah sistem pembayaran. Sehingga dalam perjalanan pulang dan pergi, Anda berada dalam gethek yang sama. Pembayaran dilakukan di akhir. Tanyakan pada pengayuh gethek, berapa lama waktu yang mereka berikan sebelum pada akhirnya mereka menjemput Anda. Hal ini dapat didiskusikan dengan rombongan.

Turun dari perahu, Anda akan menjumpai tempat penjualan tiket lagi, tetapi jika Anda sudah membeli tiket di gerbang depan, Anda cukup menyerahkan tiket. Candi Cangkuang termasuk kecil, tapi indah. Bangunannya relatif baru karena dipugar pada tahun 1974-1976. Candi Cangkuang sendiri ditemukan pada 09 Desember 1966. Digali pada tahun 1967-1968. Setelah puas melihat candi, Anda dapat masuk dan melihat-lihat museum. Kabar bagusnya, Anda tak perlu membayar!  Disini banyak terdapat naskah kuno, antara lain khutbah Jum’at terpanjang di Indonesia (1.67 meter),  kitab suci Al Qur’an yang berasal dari abad 17 Masehi yang terbuat dari kulit kayu, buku ilmu pengetahuan fiqih berbahasa Arab yang berasal dari tahun dan terbuat dari bahan yang sama, kertas tradisional nusantara/daluang (Saya baru tahu dulu ada kertas jenis ini, bagi Saya yang nggak tahu sejarah, nampaknya sama saja), batu-batu sisa reruntuhan candi. Jikalau diharuskan membayar untuk masuk museum demi melestarikan peninggalan sejarah, mau deh Saya. Meskipun nggak ngerti sejarah, tapi Saya tahu bahwa peninggalan ini cukup penting. Idealnya naskah kuno tidak dipajang langsung di dalam kaca seperti etalase toko dan dipasang peringatan tertentu, sehingga turis lokal udik seperti Saya ini yang nggak pernah lihat naskah kuno, nggak ngiler untuk jepret sana sini. Hehe, piss Pak!

Di dalam museum ini juga ditempel poster informasi tentang tempat wisata lain di Garut, berikut petanya, sayang ga boleh diminta. >:D Begitu keluar dari pintu museum, Kita akan melihat makam. Berjalan 25 meter ke sebelah kiri makam, Kita akan menjumpai Komplek Rumah Adat Kampung Pulo, disini terdapat tipikal rumah adat Sunda, rumah panggung dengan dinding bambu. Hanya ada 6 rumah disini. Jangan dibayangkan sama seperti Kampung Naga, ya! Bosan, trus ngapain nih? Duduk-duduk aja, sewa tikar Rp 5.000,00 atau jika Anda terlalu pelit seperti Saya 😀 nebeng aja di tempat orang jualan (tebal muka dikit) dan ga usah beli apa-apa (maap ya pak!) Kalo udah bosan trus ngapain? Pulang aja, kan Bandung-Garut deket, cuma satu setengah jam. Tertarik? Silakan pergi kesana. Bon Voyage! Hati-hati saat berkendara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s