Paper Presentation


Berawal dari disposisi Direktur SDM ke SatKer dan Unit Operasi terkait, untuk mengirimkan paper ke acara ini, SatKer Kami mengirimkan 2 paper dengan tema nikel dan bauksit dengan pengerjaan dilakukan secara tim. Saat itu, salah satu staf yang dijagokan untuk menjadi pembicara berkata, sepertinya Bulan Oktober adalah bulan perkiraan istrinya melahirkan. Aku hanya nyeletuk, “Pak, kalau bapak gak jadi kesana, saya daftar jadi waiting list urutan pertama pengganti ya.” Mungkin, pikir bapak itu, ni anak, langsung samber aja liat ada ikan. -_-‘ Dan, aku baru tahu kemudian, perkataanku dianggap serius. Tring, email berbunyi menunjukkan adanya email masuk. Congratulations, your paper titled Impact Of Shifting On Selling Cost and Mining Cost Adjusment Factor (MCAF) Against To Pit Optimization Of North Tayan Mine, PT Anu is accepted in the Twentieth International Symposium On Mine Planning And Equipment Selection (MPES 2011) that will be held in Almaty, Kazakhstan for October, 12-14th 2011. Wuaaaa, emaaakkkk, aku budhal neng Kazakhstannn!! Eh, belum ding. Diterima belum tentu berangkat, Acc dari Direktur Pengembangan masih diperlukan, apalagi ane masih tergolong nubi di perusahaan. Begitu Acc diterima, perutku langsung mules. Bukan diare. Perasaan kudu ngomong pake bahasa linggis di depan profesor-profesor itu loh, aduh, bayanginnya aja bikin tidurku ngiler. Oke, persiapan dibuat jauh hari. Presentasi done. Latihan presentasi di internal Satker done twice. Persiapan lain berupa tempat tujuan jalan, tempat makan, bahasa lokal, peta, indonesian embassies, booking hotel, aturan setempat, no telepon polisi, no telepon ambulans/RS, no telepon hotel sama penyelenggara acara su oke (maklum, paling bontot, mangkanya jadi EO). Pas cari tahu musim disono, ternyata lagi musim gugur, suhunya antara 10-19 deg C. Jadi setidaknya siapin jaket wool, sarung tangan, syal, kaos kaki, long john, sama kupluk. Mulesnya gak ilang-ilang, tiba-tiba malah udah hari H-nya. Kami menggunakan pesawat Etihad milik Abu Dhabi, salah satu low cost airlines asal Timur Tengah selain Emirates. Rute yang ditempuh adalah Jakarta-Abu Dhabi-Almaty. Perjalanan memakan waktu hampir 20 jam (3 jam CGK-Dubai, 10 jam transit, 7 jam Dubai-Almaty). Itu sudah waktu tercepat dengan harga termurah (sekitar 15Jt PP). Waktu aku browsing rute untuk cari tempat transit yang gak butuh visa, standar-nya adalah 23 jam, dengan rekor waktu terlama 33 jam dan termahal sekitar 35 Jt pp. -_-‘ Aku baru tahu, ternyata, jika kita menggunakan Etihad milik UAE, maka Kita akan transit di Dubai. Namun, bila kita menggunakan Emirates, maka kita akan transit di Turki, karena itu adalah airlines mereka. Di pesawat, Kami serombongan dengan atlet cewek dari Kazakhstan, mulai dari level SD hingga SMA. Ternyata, murid SD-nya sama dengan murid disini, hihi, rambutnya juga suka dimacem-macem trus dikasih pita warna-warni. Dasar udik, naik pesawat ke luar negeri jarak jauh, kudunya dipake tidur, malah dipuas-puasin nonton pilem yang ada di kursi di depan kita. Makanannya sih, disesuaikan sama menu Indo, dari ADIFC (Abu Dhabi In Flight Catering Company), kayak ayam, nasi goreng, terus dudukan kursinya bukan formasi 3-3 lagi kayak penerbangan dalam negeri, tapi 2-3-3, CMIIW. Mendarat di Abu Dhabi udah malem jam 10 waktu setempat (lebih cepet 3 jam dr Jakarta), mau kemana-mana juga udah tutup kali ya, selain perlu visa. Kita emang sengaja gak ngurus visa karena waktu ngurusnya lama, belum tentu diterima, dan mahal. Karena flight kita masih jam 6 pagi besok harinya, kita cari hotel bandara. Dan ternyata hotelnya cuma 1 dan sudah full semua untuk harga USD 100/malem. Uhuuy, baru pertama pegang duit dolar. Hehehe, udik lah pokoknya. Akhirnya kita cari lounge, tapi itu pun harganya USD 60 per 4 jam, karena masih ada 10 jam, jadi kita perlu bayar USD 180, masih murah hotel, jadi kita memutuskan untuk tidur di ruang tunggu bandara. Sebenernya di hotel bandara ada kamar yang khusus per 12 jam aja, jadi harganya lebih murah dari USD 100, namun selalu full booked kalo gak dipesen jauh-jauh hari. Kalo boleh usul sih, ketika ada connecting flight di luar negeri, ada pengurusan untuk istirahat selama jeda itu kali ya. Di lounge gak ada kasur, tapi ada sofa, selalu ada makanan, dan bisa mandi dulu sebelum boarding. Yah, beggar cant choose. Untungnya, kursi di bandara sana memang didesain agar orang bisa rebah 135 derajat di kursi. Tinggal cari kursi yang depannya dinding buat sandaran kaki, sama krukupan pake kain pantai sama pashmina, nyenyak deh. Oiya, chargernya sama kok, 2 kaki kayak di Indonesia. Rugi deh beli adaptor. -_-‘ Pas kebangun, ternyata bandara sana duingin bok. Buat ngusir dingin sama laper, 2 jam sebelum kita cari makan ke McD, tapi nuker dinar dulu, gak bisa pake dolar. Baru tau juga, beda negara, beda menu McD. Disana, menunya burger semua. Harganya sekitar 25k kalo gak salah. Trus kita shalat, shalat di TimTeng entah kenapa terasa khusu’ ya. Terminal bandara yang aku tempatin gak gitu gede, dan tokonya ga terlalu banyak. Bapak-bapak pada jalan-jalan liat jam tangan dinding sama parfum disini. Pagi-pagi udah check in tujuan selanjutnya, tapi gak pake mandi itu sesuatu banget ya, mau mandi tapi disono kamar mandi-nya model kering, ga bisa dipake mandi. Sepanjang perjalanan kesono, aku inget pernah nonton NGC, katanya sebagian besar wilayah Kazakhstan adalah gurun pasir, padang rumput, pemukimannya sedikit, bahkan ada suatu daerah yang menggunakan bukit pasir buat main ski. *ngiler* Dari atas, nampak relief bukit-bukit yang tampak berwarna gelap, Kami melintasi Afghanistan, aku langsung teringat novel Islami, judulnya Padang Seribu Malaikat yang menggunakan bukit hitam sebagai latar belakang ceritanya. Info dari layar di depanku mengatakan kami sudah memasuki wilayah Kazakhstan, dari atas, memang keliatan ga ada apa-apanya, begitu mendekati Almaty, mantan ibu kota Kazakhstan, pemukimannya jadi banyak. Aku ngeri, mengingat niatku mau menjelajahi semua sudut Almaty. Gede bok, kotanya. Mau jalan kaki? Becanda! Mendarat di Almaty, kita langsung disambut sama pegunungan Tian Shan yang diselimuti salju sama ada tulisan welcome to Almaty, di sebelahnya tulisan acrylic. Atlet Kazakhstan pada tepuk tangan begitu pesawat menjejak tanah, antara nasionalisme yang besar dan kangen sama negaranya.

Ternyata visa bisa diperoleh on arrival, cukup bayar USD 95 utk 30 hari, melampirkan persyaratan berupa formulir permohonan visa, foto, dan undangan pihak setempat (dalam hal ini undangan konferensi). Keluar dari tempat itu, kami langsung dikerumunin, ditawari naik taksi, tapi gak ada yang pake bahasa inggris. Karena di Dubai gak ada penukaran mata uang Kazakhstan Tenge, Kami menukarkan duit besar dan kecil disini. 1 Kzt = IDR 62. Dalam mobil jemputan penyelenggara, kami membuka kaca jendela, dan membaui aroma Kazakhstan yang segar. Perjalanan ke Hotel Kazzhol di Gogol St memakan waktu sekitar setengah jam. Urusan kasur beres, saatnya makan! Pertama kali, kami menjelajahi lokasi dekat hotel kami, tapi tak menemukan tempat makan, tempat minum sih banyak. -_-‘ Akhirnya kami balik ke hotel, dan makan di hotel. Aku pesan bes barmak, yang bebas dari urusan per-sapi kontet-an aka babi. Bes barmak adalah makanan yang dibuat dari tepung terigu yang direbus, dikasih daging kambing, taburan bawang bombay sama kaldu daging. Buat kita yang udah biasa makan makanan berempah, makanan Kazakhstan terdiri dari satu rasa dominan, buat makananku, gurih mendominasi. Dasarnya tukang tidur, beda 2 jam doang sama Indonesia, tetep bikin jetlag, tidur nyenyak sampe pagi. Karena acara jam 9, jam 7 kita rencananya berangkat dari hotel. Jam setengah 6 aku udah bangun, tapi masih gelap di luar, gatau adzan subuhnya jam berapa, aku sholat aja, baru tau kemudian adzannya jam 5. Kita minta dipesenin taksi sehari sebelumnya sama pihak hotel. Karena hanya ada satu taksi resmi di Almaty, sisanya taksi mobil yang suka-suka empunya, kapan pengen merubah fungsi mobil pribadinya jadi taksi. Jadi jangan heran setiap ada mobil lewat, calon penumpang pada melambaikan tangannya. Jarak dari Kazzhol ke Intercontinental Hotel, hanya 10 menit, yang menurut panduan wikitravel, harga taksi 2000 Kzt sudah termasuk mahal (meski dibagi 4 orang), 1000 Kzt seharusnya sudah bisa bawa kami keliling kota, karena kami ga ada yang bisa bahasa rusia dan supirnya juga ga ada yang bisa bahasa inggris, ga ada tawar menawar yang terjadi. Oya, tanpa diminta, mereka akan memberikan kuitansi. Pernah, kami kelebihan membayar, dan ketika kami tanyakan kepada pihak hotel, mereka langsung menelepon agen taksinya, dan mengatakan untuk keesokan harinya, kami hanya perlu membayar untuk 1 kendaraan saja (biasanya kami sewa 2 taksi) dan yang mengantar kami langsung adalah kepala pool-nya, setiap hari ke Intercontinental, sampai mengantar kami pulang ke bandara. Awesome!  Jalanan relatif tidak macet, karena aktivitas baru dimulai pada pukul 09.00. Konferensi dibuka tepat waktu, dan ditayangkan dalam dua bahasa, kadang bahasa Inggris, kadang Bahasa Rusia. Di meja disediakan earphone merangkap microphone 2 channel untuk bahasa Inggris dan Rusia, jadi kalo mau ngomong kudu dikecilin dulu volumenya biar ga berisik. Tapi pas pembukaan pun macem-macem keliatan tingkah laku orang, kebanyakan sih serius, ada yang jepret sana-sini (termasuk kami, tapi itu buat bukti ke perusahaan kalo kami udah nyampe dan mengikuti acara dengan sukses, hehe), termasuk ada yang foto diri pake i-tabnya yang ukuran 10 inchi. Kita dikasih air mineral merk Tassay, orang kantor sih pada pinter bawa pulang banyak air mineral, yang kemudian aku baru tahu dan salah beli sampe 3 kali, beli air mineral pasti ada sodanya, tulisan rusia-nya sih mirip kayak tulisan Boda, dalam accrylic tentunya. Saking putus asanya karena salah beli air mineral sama air soda (ngomong sama penjualnya juga ga nyambung, aku pake bhs inggris, dia pake bahasa rusia) eeh, terakhir, baru kepikir, guncang aja tuh botol, kalo blubuk-blubuk berarti kagak ada sodanya! Sholat kami selalu dijamak, karena ga tahu kapan adzannya, yang menarik, meski mayoritas penduduk disana muslim, tapi di hotelnya ga ada mushola. Akhirnya kami sholat di ruangan yang ga terpakai, dan untuk menanyakan arah kiblat, kita udah coba tanya dalam bahasa inggris, mulai dari north west, pray, sampai mosque, kaga ada yang ngerti. Kru hotel sampe manggil kru-nya yang agamanya muslim. Kita bilang Macca, dia baru ngeh dan langsung ambil wudhu, jamaah bareng. Sampe kita selese Sholat Ashar, dia masih berdoa, terharu kali ya, ketemu banyak sodara seiman.  Sesi presentasi dibagi ke 3 ruangan, sesi untuk perencanaan, operasi, dan tambang Kazakhstan. Kebetulan aku mendapat giliran presentasi di hari pertama setelah break kedua jam 3 sore. Gugup? Oh, udah gak ketolong lagi, jerigen penuh sama keringet dingin dari tangan, sebelah sampe bisa denger suara jantungku. Buat menenangkan diri, aku pergi ke toilet dan menarik nafas 50 x sampai rasa sesaknya hilang (mirip yoga kali ya) tapi di toilet? Eew! Habisnya, kaga ada tempat sepi lagi, where i can alone just with myself. Presentasi berjalan lancar, kaga ada yang nanya, mungkin karena kebanyakan berasal dari akademisi, hanya sedikit yang berasal dari kalangan praktisi, rather than use software, maybe they’d like to create one. Selesai presentasi, suhu tubuh langsung menghangat. Jam 5 Kami sudah menuju hotel, jalan baru gelap setelah pukul 18.30. Entah pengaruh kelembapan dan intensitas pencahayaan matahari, rumput disana terlihat lebih hijau daripada di tempat kita. Dan sepanjang perjalanan aku mEmperhatikan, di Kazakhstan ini ditinggali oleh banyak etnis, ada Mongolia, China, Rusia, Turki, Korea, Eropa, sangat multikultural disini. Namun, bahasa yang digunakan hanya ada dua, Bahasa Rusia dan Bahasa Kazakhstan. Untuk urusan transportasi, mereka mengandalkan bis, taksi, dan kendaraan pribadi. Bis disini ada yang menggunakan tenaga listrik, dan mereka memiliki jalur khusus di bagian tengah jalan. Mobil disini bagus-bagus, karena banyak mobil bekas masuk dari Eropa dan mereka banyak parkir di pinggir jalan. 5 ruas jalan yang bisa dilewati, terkadang hanya bisa dilewati 3 jalur, rupanya macet bukan hanya milik Jakarta saja. Ngomong-ngomong, plat mobilnya sama kayak di Indonesia  mulai dari A sampai Z ada disini. Ketika masih di Intercontinental, suhu udaranya dingiin banget, bikin muka kaku. Tapi menjelang sore dan malem, dinginnya udah enak.

Setiap hari Kami menyempatkan jalan-jalan, tapi karena buta arah, semua penunjuk dalam Bahasa Rusia), paling jauh Kami hanya memutar 3 blok saja hingga Zibek Zholv St dan Abylai Khan Ave yang banyak terdapat tempat makan. Kami menemukan satu mall, namanya Silk Way. Aku ngiler boot-nya, tapi mahal, hampir USD 100. -_-‘ Di Jakarta aja, harga 200k aku masih mikir-mikir. Mall ini sempet bikin aku salah sangka, kirain cuma ada satu, nyatanya ada banyak. Kalo di Indonesia mirip kayak matahari gitu. Tak terasa, hari Jumat pun datang, Kami berniat menjelajahi kota ditemani Roman, sang driver, dan Baghdad (namanya unik ya? ), sang pemandu, mulai dari Zeyloni Bazaar (Green Market), Arbat, Chocolate Factory, The 28 Panfilov Heroes Memorial Park, sampe Koektoebe. Baghdad adalah orang pertama (selain konferensi) dari Kazakhstan, yang kami temui, bisa berbahasa Inggris. Tujuan pertama kita adalah alun-alun, disinilah dulu, pusat pemerintahan ibu kota berada sebelum pindah ke Astana, kedubes Indonesia pun juga ada di Astana. Alun-alun ini ditandai dengan keberadaan air mancur, patung 3 orang, ‘sang ayah’ yang mirip patung the thinker posenya, patung ‘sang ibu’ yang mengenakan kostum tradisional, dan ‘sang anak’ yang menunggangi kuda. Mungkin ketiga patung ini menggambarkan sosok keluarga Mongolia (penduduk asli Kazakhstan). Di sepanjang alun-alun juga ada pagar yang motifnya menggambarkan kondisi dan efek dari peperangan, seorang prajurit berkuda menghunus tombak yang disambut dengan tameng oleh prajurit musuh. Di sisi lain digambarkan tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya di medan pertempuran dan wanita lain terduduk karena mengalami hal yang sama. Perang dimana-mana selalu menimbulkan kepedihan yang sama, luka yang digoreskan, akan terus berada di sana.

Tujuan selanjutnya, Zeyloni Bazaar! Kata Baghdad sih, Zeyloni = Green, Bazaar = Market. Tapi katanya Koek = Green, Toebe = Hill (ntah kebalik ntah nggak), jadi, yang bikin puyeng, ada 2 istilah buat hijau di Kazakhstan. Sebenernya sih, di pasar ini, kami ga boleh foto, dasar akunya bandel, tetep aja jeprat jepret, pas lagi moto pintu masuk, ada orang teriak-teriak, aku udah mengkeret buru-buru masukin kamera ke saku, jadi ngakak, ternyata yang teriak-teriak itu orang jualan, nyuruh kita masuk beli barang dagangan dia, ya iyalah, namanya juga pasar, hahaha. Meskipun judulnya pasar, tapi pasarnya tipe kering, dan lokasi jualnya juga udah ditentukan, bagian daging di sebelah A, sayur di B, etc. Kami juga menemukan makanan Korea yang sudah dimasak, aku pun ngiler, tapi ngilerku segera terusik oleh Baghdad yang menyuruh kami untuk mencoba minum susu onta dan susu kuda, gratis katanya. Aku lupa yang mana, tapi satu susu rasanya asem, asam lambungku langsung naik, kayaknya sih susu sapi. Susu unta rasanya agak manis dan sedikit gurih, tapi rada sepet. Disini tempat paling tepat untuk membeli oleh-oleh, murah. Kami melanjutkan perjalanan ke Chocolate Factory, surga.  Sesampainya disana, kami ternganga dengan harganya. Satu kotak coklat besar yang biasanya diberikan untuk valentine seharga >100k, di sana harganya hanya sekitar 20k, dengan isi jauh lebih banyak dan rasa yang lebih OK. Favoritku, sejauh ini adalah permen aneka rasa dan bentuknya, lebih mahal sih, hiks, tapi lebih enaaakkk. Kami melanjutkan ke The 28 Panfilov Heroes Memorial Park, di sepanjang jalan yang kami lewati, ada juga pasar kaget. 😀 Di memorial park ini, banyak terdapat relief perang dengan tahun, tulisan-tulisan, dan terdapat api abadi untuk menghormati 601.011 orang prajurit yang meninggal dalam perang dunia 2 melawan Nazi. Selain itu, juga terdapat gereja ortodoks yang dibangun pada tahun 1870.

Kami melewati Silky Way Mall di Arbat (Zhybek Zholy St) untuk mencapai Koektoebe yang terletak di Tenggara Almaty. Kami membayar 100 KZT/orang untuk tiket masuk dan untuk minibus elf ke atas. Banyak terdapat wahana disini, beatles museum, national souvenir, art gallery, childrens playground, zoo, viewing platform, passenger rope way, etc. Di kota ini, karena bukit tertingginya ada di Koektoebe, maka tower pemancar untuk siaran televisi dan radio dijadikan satu. Sayang kami tidak bisa ke Chimbulak dan Medeo karena bukan sedang musim salju, namun dari atas Koektoebe, tempat ini terlihat, penasarannya terobati. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s