The Long Await New Zealand Trip Part 2, 23-26 Jan 2016


 Day 2, Saturday, 23 Jan 2016. Ane tanya ke hotel tentang SIM Card Spark yang ngga ada sinyal di HP ane, trus dikasih SIM Card 2 Degree gratis (perlu top up 20 NZD buat register data 300 MB). Kami sarapan crisp tuna cheese sandwich & berangkat ke Akaroa jam 9 AM (finally the real deal started) via Fitzgerald Av-Moorhouse Av-Lincoln Rd-Halswell Rd (SH 75). Namanya State Highway (SH) tapi bukan tol. Kami melewati banyak perempatan, sekali dapat lampu hijau, seterusnya dapat lampu hijau. Untung masih sepi karena berangkat pagi. Keluar dari kota, pemandangan bukit-bukit, sapi bercorak hitam putih & domba yang ginuk-ginuk menyambut Kami. Ane uplot ke WA Grup Gawe, reaksi bapak-bapak, “Neng, kamu jauh-jauh pergi ke Bumi Selatan cuma buat lihat sapi,” hahaha!

Kami berhenti di Lake Forsyth & Duvauchelle buat foto-foto. Kondisi jalan setelah Lake Forsyth ini agak berkelok-kelok & nanjak. Kami nyetir sesuai peraturan walhasil jalan Kami pelan & di belakang terjadi antrian, jadilah Kami jalan agak minggir. Sempat ada 4WD yang nyalip Kami di belokan, ternyata dia bawa kapal di belakang mobil, ujung belakang kapalnya hampir kena bemper depan. 😦 Si mobil 4WD ternyata berhenti di Duvauchelle, sang kakek nunggu Kami & marah-marah di pinggir jalan (maaf ya Kek).

Angin di Duvauchelle dingin & kenceng banget, buka mobil bentar trus langsung pake jaket, rambut udah ngga karuan bentuknya. Demi foto.. Jalan setelah Robinsons Bay-Akaroa berupa gabungan belokan & turunan agak curam, menguji nyali newbie. Begitu sampai kota jam 12 AM & dapat parkir strategis, Kami jalan kaki menuju teluk, sangu kamera & tuna cheese sandwhich buat makan siang. Rekomendasi kuliner disini adalah Salmon Akaroa. Karena ini Hari Sabtu, banyak penduduk setempat melakukan aktivitas kanoing, jet sky & ship sailing (dibawa pake gandengan di belakang mobil).

Puas makan, Kami strolling city, melihat permainan bowling yang pin-nya diganti bola & ngga ada track-nya, jajan es kopi NZD 4 di Four Square Market & lanjut ke Akaroa Museum yang isinya 1 ruangan saja, namun menyambung ke Court House. Rumah di Akaroa mungil namun halamannya cantik dipenuhi aneka warna bunga (bahkan halaman rumah Kami foto, hahaha). Ukuran bunganya sebesar telapak tangan! Jam 2 PM, Kami cabut ke Akaroa menuju Hokitika via SH 75-SH76-SH73, sempat berhenti di padang bunga berwarna ungu & berlatar belakang cemara. Setiap sudut South Island memang cantik. Jam 3 PM, sadar masih jauh perjalanan karena Kami banyak berhenti buat foto (hey, that’s the point of this trip, to enjoy :D), dikebut 110 km/h & ngga banyak berhenti. Rutenya lurus, datar & sepi. Disini Kami baru sadar, NZ-er mostly nyalip di belokan. Belajar dari pengalaman di Akaroa & teringat nasihat teman Kami tentang motor di Jakarta, “Biarkan saja, mereka bisa mengurus diri mereka sendiri”. Jadilah setiap ada di antrian di belakang, Kami cuek. Baru setelah mereka rating kanan, Kami agak minggir ke kiri. Thanks mate!

Sampai Springfield ngga ada pemandangan, pas melewati Great Alpine Highway pemandangannya waaah! Dream comes true! Kami susah payah latihan nyetir, to watch these stunning view! Its such a paid off to push ourselves beyond our limit.. Ane ngga berhenti jeprat-jepret dari dalem mobil yang melaju. TIPS! Pakai kamera yang punya setting otomatis high speed shutter. Sampailah Kami di stop kedua jam 05 PM, Kura Tawhiti/Castle Hill Conservation Area, free entry & 20 minutes round way. Its just as stunning as what I saw in google image, keluar dari sini Jam 06.30 PM & matahari mulai turun.

Turun hujan deras, semakin sore & turun kabut, sehingga Kami skip Cave Stream Scenic Reserve & Lake Pearson. Jalan dari Bealey menuju Arthur’s Pass menanjak. Kami menjaga kecepatan > 90 km/jam supaya tiba di Hokitika sebelum gelap. Di Arthur’s Pass pun, Kami skip Devils Punchbowl Waterfall. Sayang sebenarnya, Great Alpine Highway merupakan salah satu rute yang paling scenic. Setelah melewati Death Corner (serem ya namanya) & masuk ke Otira Highway, Kami melewati turunan steep 16% (air terjunnya keren!) Sebelum pertigaan Taramakau Highway, GPS menunjukkan Kami harus belok kiri. Mobil sempat agak oleng, karena ngga nyangka ada pasir & pas kecepatan tinggi. Kami agak ragu lewat sini, karena jalannya kecil & berlubang, gravel (non aspal) & hutan. Hari sudah agak gelap, jam 08 PM & jalan sepi banget (Kami teringat cerita seram tentang jalan di Sumatra). Sambil terus melaju, Kami berdoa semoga ngga ada apa-apa.

Jam 9 PM, Kami sampai di pertigaan Kumara Junction Highway, trus ke Hostel (non book). Letaknya nyempil, ngelewatin jalan ngepas 1 mobil, ternyata penuh. Dingin, basah, lapar, capek & ngga ada internet (gloomy situation) membuat Kami memutuskan Top Up SIM Card 2 Degree di Four Square Market. Diem sejenak di mobil sambil nyalain pemanas & browsing booking.com, ada 2 pilihan NZD 75/ppl (paling murah), Kami book di Jade Court Model Lodge. H2C, karena jam kerja resepsionis hotel hanya sampai jam 9 PM, untunglah resepsionisnya belum pulang, malah Kami dikasih compliment cookies & susu, free WIFI Zenbu 500 MB. TIPS! Password WIFI Zenbu jangan dibuang kalau belum habis, bisa dipakai pas jatah WIFI hotel di kota lain habis (rata-rata hanya dikasih 200-300 MB), hampir semua WIFI South Island pakai Zenbu. Pas masuk ke motel, mewaaah! Isi 1 king size bed, 2 twin bed, bathtub, pemanas, kulkas, dapur & meja makan. This is my favorite stay in South Island. Motel ini meskipun mahal, tapi muat 4 orang & kualitasnya oke (IDR 350k/ppl). TIPS! Kalau mau driving trip di New Zealand, usahakan pergi ber-4, supaya biaya sewa mobil, bensin & hotel lebih murah. Hujan & capek membuat Kami melewatkan free Glow Worm Dell & makan malam spaghetti carbonara. Kami tidur cepat & memutuskan berangkat siang jam 11 AM.

Day 3, Sunday, 24 Jan 2016. Ternyata waktu check out jam 10 AM. 😦 Kami baru bangun jam 09 AM, sarapan cheese sandwich. Ane ngasih tahu resepsionis, Kami agak terlambat check out karena baru tahu waktu check out jam 10 AM (semua hotel di NZ vs check out di Indonesia jam 12 AM). Jam 11 AM, kami menuju Shanty Town (old mining replica city) di Greymouth, skip Punakaiki Pancake Rock, Blow Hole & Aorangi Scenic Reserve (mirip Castle Hill, batunya lebih intact). Setelah sampai Greymouth, Kami agak bingung, karena lokasi Shanty Town yang ditunjukkan GPS mobil dan google maps berbeda. Kami memutuskan mengikuti google maps & ternyata benar.

Dari Greymouth, Kami kembali menuju Hokitika untuk melihat Hokitika Gorge (blue water river). Jalannya kecil & sepi, pas mau sampai agak menanjak & belok agak tajam (untung newbie pakai mobil matic). Free entry, Kami jalan kaki 20 menit round way ke Swing Bridge, melewati Hujan Sub Tropis? Partner In Crime komentar, “kayak di Taman Nasional Kutai.” Karena turun hujan 2 hari, airnya jadi abu-abu & arusnya kencang, tadinya kirain bisa berenang disini, haha. Kami memutuskan  skip Bushman Centre dan langsung ke Frans Josef Glacier via SH6, sempat berhenti buat foto sama sapi. 😀 Lucunya, sapinya pada ngumpul di pagar, ngeliatin Kami. Ane iseng sprint kanan & kiri, sapinya ngeliatiin, hahaha! Kami minggir makan siang di tepi jalan sambil nonton cardcaptor sakura, random but I do enjoy it. Perjalanan hari ini lebih santai dari kemarin.

Kami tiba di Franz Josef Montrose jam 07 PM (NZD 31/ppl), mixed dorm 4 ppl. Males masak, akhirnya Kami bikin indomie sosis (pas hujan-hujan, cuma kurang cabe! :D)  Hujan angin bikin males kemana-mana, jadi Kami ngga strolling di Franz Josef.

Day 4, Monday, 25 Jan 2016. Kami ngecek lokasi terdekat & free dengan glacier (Frans Josef/Fox Glacier) di resepsionis,rupanya Frans Josef ditutup, Fox Glacier bisa dilihat dari jarak 1.2 km. Pagi hari masih hujan & berkabut. Tujuan pertama yaitu Lake Mattheson, penasaran sama Mirror Lake picture-nya. View point terdekat ternyata berjarak 80 menit round way di Jetty Lookout. Demi memuaskan penasaran, Kami tetep jalan. Kabut & hujan membuat foto ane tampak seperti penjaja vila. 😀 Kami meneruskan perjalanan ke Fox Glacier, ternyata karena hujan, esnya mencair. Kalau ngga hujan, Kami bisa jalan di sungainya yang kering untuk lihat glacier. Ada 1 kolam air menampung air terjun, warnanya cantik, agak kebiruan. Dingin membuat Kami segera menyudahi sesi foto-foto. Kami ngga jadi ambil paket tur NZD 45, cuaca buruk membuat foto tidak tampak jelas. Keputusan tepat, karena tur pun berhenti di lokasi gratis ini.

Tujuan selanjutnya adalah Knights Point Lookout, namun karena kabut jadi ngga kelihatan.. Kami mampir di Thunder Creek Falls & di Makarora buat foto-foto, pemandangan di kiri jalan berupa lereng gunung yang lerengnya ngga tampak karena ketutup awan. Mendekati Lake Wanaka, Kami senang karena langitnya biru, horee!

Foto di Lake Wanaka Scenic Photo Point (The Neck) bagus banget! It was the highlite our day. Memasuki Kota Wanaka, pemandangannya getting better, untung ane pas ngga nyetir, jadi bisa jeprat jepret dari dalem mobil & di kiri jalan melintasi Puzzling World (maze.) Surpriised! Kotanya gedee, pinggir danau & banyak tempat hangout (it became my favorite city). Kami menginap di Wanaka Mt Aspiring Rd, ane lupa namanya (NZD 50/ppl), isi 1 queen size bed, 2 bunk bed, 1 bed di bawah (muat 5 orang) & pemanas. Tempatnya oke & terbuat dari kayu, ngga boleh berisik di atas 9 PM. Kami datang jam 8 PM & langsung nge-laundry (30 menit) semuanya termasuk drying (30 menit), NZD 4. Kami makan malam spaghetti carbonara & besok malam libur masak.

Day 5, Tuesday, 26 Jan 2016. Kami check out jam 10 AM & belanja sarapan sekaligus makan siang di New World Supermarket. Kami beli sushi, unagi, ayam, pisang, red cherry & air mineral 4 liter. Ane baru sekali ini ngerasain red cherry, rasanya manis asem. Harga pisang / red cherry NZD 3-5, total pengeluaran NZD 30. Kami makan pagi di pinggir danau. Di dekat meja Kami, ada campervan parkir milik pasangan umur 50-an dari China yang sedang  berpose ria. Melihat mereka berfoto dengan enjoy-nya, ane langsung inget nyokap & bokap, how I wish I can invite them someday to join driving trip in South Island.. Amin.

Perjalanan dari Wanaka ke Te Anau melewati SH 6- SH 97 – SH 94, hanya ada 1 pemberhentian yang pemandangannya luar biasa bagus, letaknya di pinggir jalan, ane ngga inget dimana (di Cromwell apa ya, Kawarau Gorge). Fotonya ngga lama-lama, duinginn banget plus anginnya kenceng! Kami check in di Te Anau Kiwi Holiday Park & Motels jam 03 PM, NZD 30 apa ya (lupa), 10 mixed dorm, rekor check in tercepat, hahaha. Disini hanya dikasih 1 password WIFI (hotel lain ngasih 2). Keanehan berlanjut di dapur, untuk masak (bahkan hanya masak air), pinjem alat masak harus bayar NZD 5. Yang gratis cuma tap water sama microwave. Aku heran orang pada menikmati minuman hangat darimana ya airnya. Pertanyaan terjawab kemudian pas nyuci tempat makan, pakai hot top water rupanya. Kirain keran buat nyuci cuma ada air dingin aja, pengalaman pertama ane nyuci piring pakai air hangat. TIPS! Bawalah wadah makanan, sendok & botol minum ketika traveling, you’ll never know when you’re need it.

Kami udah semangat ntar malam mau strolling city & makan enak! Cuaca cerah! Kami craving daging, lalu googling best steak restaurant in Te Anau, pilihan Kami tertuju ke redcliff, yang notabene #1 restaurant versi Trip Advisor. Saking oke-nya, Kami disarankan book table, karena banyak yang ngga dapet table. Pas telepon, hanya bisa booking kalau datang langsung, ya sudah, sekalian strolling city. Kami jalan ke Lake Te Anau (dingiin banget kena angin T-T) dan ngomentarin orang yang foto penginapan. It turns out we did that as well, hahaha! Bedanya, Kami foto bunga YANG ditanam di depan penginapan. TIPS! Di Te Anau, belilah oleh-oleh bibit bunga, tanaman red cherry & pohon berdaun merah, banyak banget bunga bagus & ukurannya besar. Bisa juga buat jualan di Indonesia.. Ane agak nyesel kemaren lupa ngga beli bibit bunga..  

Keliling kota udah, beli oleh-oleh udah, tapi kok masih jam 06 PM, padahal Kami booking makan malam jam 08 PM, yawes, balik hostel dululah power nap/mandi. Pas balik ke kamar, nemu keanehan lain dari hostel, rumputnya dikasih nomer! Selidik punya selidik, rumput disewain buat yang mau tidur di doom (suhu sedingin itu? ngga deh makasih..)

DSC03683

Saat yang ditunggu tibaa, makan malam! Sebelum kesana, Kami googling menu, ane rencana pesan lamb grill, NZD 38, lihat gambarnya kok kecil, Kami pesan starter buat berdua. Budget tur Frans Josef Glacier yang ngga jadi dialihkan kesini. Untung Kami berdua tipenya sama, lebih pentingin makan daripada tur, hahaha! And it was AWESOME! Really really AWESOME! The texture is soo soft, pretty pink colour, juicy. The best lamb steak I’ve ever taste, worth it dengan harga segitu.

Pulangnya Kami ngga lupa mampir kotak pos buat kirim kartu ke sahabat-sahabat Kami tercinta. Ane baru tau, kirim kartu pos ternyata mahal ya. Kartu posnya sih murah (< NZD 1), prangkonya yang mahal (NZD 2). Udah lama ngga nulis, tulisannya kayak ceker ayam. Bersambung ke Part 3 yaa, yuhuuu!!

DSC03692

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s