The Long Await New Zealand Trip Part 3, 27-31 Jan 2016


Day 6, Wednesday, 27 Jan 2016. 3 hari kejar tayang membuat perjalanan agak santai. Kami ngga jadi ikut tur ke Milford Sound NZD 70, karena dingin & simply dont want to. Menurut itinerary, we supposed to go to Invercargill, mau foto The Bluff, ujung paling selatan New Zealand. Tapi dipikir-pikir kok males ya, jam 11 AM Kami menuju The Catlins, dengan harapan dapet sinar matahari. Rute Te Anau-The Catlins didominasi peternakan domba, membuat kami berimaginasi, “kayaknya gw ngga bisa deh, nikah sama NZD-er. Ntar suami gw tidur, gw lepasin dombanya satu-satu, biar ngga disembelih, hahaha.” Perlu digarisbawahi, sampe sini mobil masih bersih mulus. GPS mengarahkan Kami lewat unpaved road yang lebih lama, karena ngga bisa ngebut (60 km/h).

Sampe The Catlins jam 3 PM, sinar matahari tinggal harapan, lebih dingin dari Te Anau. Kami menginap di Catlins Newhaven Holiday Park (NZD 70 cap 4 ppl), ecofriendly, kebutuhan air diambil dari hujan. Di hotel ini, Kami merasakan enaknya hotel di Indonesia (harga bersaing & fasilitas diberikan gratis). Disini untuk mandi (NZD 2 for 5 min), mencuci (NZD 4), selimut (NZD 6), dan WIFI berbayar (NZD 4). Lokasi hotelnya di tepi pantai & bisa lihat sea lion jika beruntung. Gegara ngelewatin gravel road, mobil jadi ngga keliatan kaca belakangnya.

Kami ke Purakanaui Falls Walk (20 min return) & Jack’s Bay (80 min return). Enaknya destinasi wisata di suburb NZ gratis & sepi, we blend in with nature. Jack’s Bay is our only walk track yang agak panjang. Walhasil bikin Kami penasaran dengan sukses, kok ngga nyampe-nyampe. Pas balik badan, pemandangannya bikin berdecak kagum! Pas di Jack’s Blowhole, Kami heran karena nama lokasi ngga sama dengan penemunya. Temen pura-pura jadi scriptwriter, Jack ngga sengaja terjatuh ke blowhole pas lagi trekking uphill. Temen Jack yang kehilangan, mencari dia hingga menemukan lokasi ini & mengasumsikan Jack tiada, sehingga menamakannya Jack’s Bay. Ane nyengir.

Day 7, Thursday, 28 Jan 2016. Tujuan pertama hari ini adalah makan siang! Kami makan di The Point Cafe Bar jam 11 AM, they served VERY DELICIOUS blue cod fish burger (NZD 12) & steak (NZD 18)! Pas disini, mobil kotor Kami sempat bersanding dengan mobil Ferrari yang lagi touring. 😀 Kami meneruskan perjalanan melalui Balclutha-Alexandra, viewnya banyak batu sedimen pipih, 1% mirip Colorado. 😄 Sampe sini, Kami mengambil kesimpulan, South Island bagian barat (gunung), barat daya (danau), tenggara  (pantai) & tengah (gersang berbatu) memiliki landscape yang berbeda. Kami beruntung bisa melihat sisi yang berbeda dari South Island..

Memasuki Alexandra, kami disambut dam di kiri jalan. The view keep getting better until Queenstown. One of the scenic route! Kalau ada waktu, sempatkan menginap di kota kecil Cromwell yang cantik. Kami melewati Gibbston Valley yang terkenal dengan winery-nya (pengalaman pertama ane liat kebun anggur wine). Kami juga melewati Kawarau River (warna airnya turquoise cakep), tempat maen shotover jet (NZD 330) & bungy jumping (NZD 150). Sampai di Queenstown, Kami pelan-pelan menuju Tanoa Aspen Hotel (NZD 120) karena banyak bunderan yang membingungkan. Room kami oke banget, viewnya menghadap danau Waikatipu (serius itu nama danaunya, ane ngga nipu) 😀 berlatar belakang The Remarkables.

Udah ngerasain lamb, blue cod fish, tinggal ngicipin NZ beef yang terkenal! Browsing best lamb steak in Queenstown, Jervois Steak House sama Flame Bar & Grill muncul. Berkaca dari pengalaman di Te Anau, Kami telp bikin reservasi & kecewa karena full. Kami naik bis No 9 (NZD 6) dari depan hotel turun di Crowne Plaza lanjut jalan kaki ke Flame Bar & Grill. Dan ternyata full reservation 😦 Kami balik badan & managernya yang ganteng tetiba manggil kami & ngasih meja kosong buat berdua (reservation didnt show up). Dasar doyan makan, kami langsung berbinar-binar & pesan rib eye on the bone 450g (NZD 38), super sekali selera makan Kami ya, wkwkwk (umumnya steak di Indonesia 200-250g). Pesanan datang dengan mushroom sauce, Kami mengiris sepotong daging & memasukkan ke mulut. “Mmmmm,” adalah reaksi kami, happiness from DELICIOUS NZ beef steak.

Habis makan jam 10 PM, Kami strolling Queenstown, tapi ternyata banyak yang tutup. Jam 10.30 PM kami balik jalan kaki 30 menit (last bus 10 PM), gelap & NANJAK! 😦 Steaknya ilang dong. But it’s my first experience jalan kaki lama nanjak di kegelapan & larut! 😀

Day 8, Friday, 29 Jan 2016. Hari ini Kami mengembalikan mobil & pisah (temen lanjut ke Auckland ikut Hobbiton tour di Mata-Mata, nama kotanya unik ya?) Balik ke Queenstown naik Bis No 11 (NZD 12) dari airport ke Queenstown Hub lanjut jalan kaki ke arah danau. Danaunya bagus banget, airnya bening & lagi ada pasar kaget, sayang harganya mahal. Akik dijual NZD40, jadi pengen jualan akik disini, hahaha. Puas jelajah danau jam 4 PM, ane beli kebab (NZD 12) di food court buat makan malem, trus balik ke Heritage Queenstown (NZD 180). You didn’t read it wrong. That was the cheapest price i can found in Queenstown for Friday to Saturday. TIPS! Kalau ke Queenstown weekend, book hotel jauh hari untuk menghindari kehabisan hotel murah!

Itu pengalaman pertama ane nginep di hotel bintang 5 dengan duit sendiri & tidur di ranjang king size, sampe gelibak gelibek gulang-guling glundang-glundung di kasur saking gedenya. Ngga mau rugi, ane ngendon di kamar sampe check out jam 10 AM esoknya. Ngapain? Mandi di bath tub 1 jam sampe hape ane kecemplung, hahaha. Untung pengering rambutnya paten, jadi ngga kenapa-napa. Nonton film on cart dikira gratis, ternyata berbayar NZD 10. 😦 Ada AV, tapi kudu minta dibukain aksesnya sama resepsionis, haha, aya-aya wae (pas cerita ke temen, ternyata emang model hotel di luar kek gitu). Trus browsing! Karena dikasih free wifi 1 GB 😀 (hotel lain umumnya 200 MB).

Day 9, Saturday, 30 Jan 2016. Setelah pindah ke Sir Cedrics Tahuna Pod Hostel (NZD 70)-iye, turun pangkat :D, ane makan siang di The Cow, kebayang carbonara bikinan temen yang enak, belum bisa move on. Bosen jalan di City Center, ane ke Central Otago Public Library, baca buku The Monk Who Sold His Ferrary sampe jam 5 PM, trus balik ke hotel, bikin indomie buat makan malam trus tidur. My room is the only double room & separated from main house. Sampe sini mungkin pada nyadar, ane kelamaen di Queenstown 3d, harusnya 1d aja. Flight diresched Jumat/Minggu (semula Sabtu), ane pilih Minggu, harapannya bisa jalan lebih lama, tapi lupa implikasinya (lebih mahal).

Day 10, Sunday, 31 Jan 2016. Ane naik bis no 11 (NZD 12) paling pagi (jam 7 AM) dari Ballarat St ke  airport, malam sebelumnya web check in (flight jam 9 AM & 9 PM u/ DPS-CGK). Gate domestic & international flight jadi satu di Queenstown airport. Pemandangan Queenstown berupa The Remarkables dengan puncaknya ditutupi salju. Ane berbisik, “so beautiful, i will be back someday to enjoy winter. Sampe Sydney jam 10 AM (time difference 2h), flight ke DPS jam 4 PM-delay jam 6 PM. Sakaw makanan Indonesia, ane browsing list restoran di T1 Sydney Airport, nyari resto China & nemu Little Bok Choy di Gate 55, pesen nasi goreng + minum (AUD 20 + AUD 10), porsinya banyak banget, i take my time to munch until 12 AM. Saking lamanya transit, ane ngider T1 sampe jam 4 PM, capek ngider ane duduk deket gate yg ada colokannya trus baca Artemis Fowl.

Pesawat delay lagi sampe jam 9 PM, sampe DPS jam 1 PM, tiket DPS-CGK hangus & bakal telat masuk kantor. 😦 Ane protes ke JetStar minta ganti pesawat DPS-CGK, dengan muka datar dia bilang, “sorry we didnt cover, if you have travel insurance you can ask them.” Gw “….”, karena ngga tau policy di Australia/Jet Star tentang ketinggalan pesawat. Ane jadi sadar pentingnya perlindungan hak konsumen. Kalo di Indonesia, delay >1 jam memberikan penumpang hak untuk penerbangan lain. Transit in Sydney 11h, longer than allowed time 8h, no problem, since i already inside gate & caused by delay.

Day 11, Monday, 1 Feb 2016. Jam 1 AM, the air of home. Ane mendarat dengan hati ringan & langsung menuju Domestic Departures sekitar 15m. Ane beli tiket DPS-CGK terpagi jam 7 AM 700k, lanjut tidur di mushola. Jam 5.30 pagi bangun & sarapan jam 6 pagi (jam 11 makan siang di Queenstown) 😀  Alesan sebenere sih sakaw makanan indo, jadi langsung ngiler liat ayam betutu. Ntah kenapa kangen ayam goreng pas balik ke Indonesia, haha. Pemberitahuan pesawat delay 1h udah ngga ngefek, since delay kemarin menyebabkan tiket hangus & ganti pesawat pun tetep bakal telat ngantor. Ane ngabarin orang kantor dateng telat abis makan siang. Jam 10 PM, ane sampe & ngantri Damri. Reality hit but couldnt be more glad to be able sleeping again in my own room.

Part 3 NZ delay 2 bulan, sebagai gantinya, nantikan postingan jalan-jalan ke Solo & Srilanka. Btw, last part NZ bukan postingan ini yaa, ntar ada rekap biaya, tips & pengalaman lucu selama disana. Tunggu tanggal terbitnya! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s