Let’s Get Lost at Srilanka Part 2, 7-9 Mar 2016


Day 4, Monday, 7 Mar 2016. Kami berangkat jam 07.00 AM, supaya sampai di Pinnawala jam 08.30 AM, sepanjang perjalanan, supir tuk-tuk mencoba meyakinkan Kami untuk pergi ke Milennia (harganya LKR 1k vs LKR 2.5k dibanding Pinnawala), less crowded, Kita bisa kasih makan & mandiin gajah. Rating trip advisor ngga jauh beda, 3 vs 3.5 untuk Milennia & Pinnawala. Kami tetap memilih Pinnawala. Later on habis ke Yala National Park, ane ngerekomendasiin ngga usah ke Pinnawala, karena Kalian bakal ketemu gajah yang bebas berkeliaran di Yala National Park.

Pinnawala buka jam 09.00 AM, tapi sudah banyak yang antri (termasuk orang lokal karena akhir pekan), harga tiketnya LKR 2.5k/ppl. Kami foto gajah dengan latar belakang bunga warna pink, lihat gajah gali tanah trus dilempar ke punggung mereka buat ngurangin panas (33 deg C). Abis itu liat kelakukan gajah kecil lucu, nyoba ngerebut makanan sodaranya & ada yang nyoba duduk. Tetiba ane teringat pengalaman lihat gajah di Way Kambas 201. Di kedua tempat, ada gajah yang dirantai, perasaan ane mixed, animal should be roaming freely in the nature, di sisi lain, kalau ngga dirantai ntar mereka lari kesana kemari merusak pemukiman. Ane lebih suka suasana di Way Kambas, diseruduk sama gajah kecil & diajak main, sementara 2 temen ane ngumpet di balik pohon.

Abis itu, liat bayi gajah dikasih minum susu 1 ember gede. Trus nyebrang jalan, liat gajah mandi & pup (this is the part where you say eew :p). Si pelatih literally ambil pup gajah & dilempar ke hilir, maksudnya biar air mandi si gajah bersih kali yak. I’m like EEWWW (just like your response). Dari situ, Kami lanjut ke Spice Garden yang isinya tanaman herbal / apotik hidup. Turnya gratis, Kami kasih LKR 500 buat tips & temen beli sandalwood buat ngilangin jerawatnya, harganya LKR 2k (coba update dulu, does it worked?) Later on, ane tanya terapis pas di Bali, katanya sandalwood yang bisa dipakai untuk obat adalah yang fresh habis ditumbuk.

Kami mengunjungi tea factory setelah itu, tempatnya keren. Ane jadi tau proses pembuatan teh & berharap ada tur semacam ini di Indonesia … Ane baru tau ada 3 jenis daun teh, daun teh warna hijau, daun teh warna merah gosong terbakar matahari & pucuk daun warna hijau, ketiganya menjadi jenis teh yang berbeda. Daun teh warna hijau akan menjadi black tea dengan produk BOPF (Broken, Orange, Pekoe, Fannings), daun teh warna merah menjadi green tea & daun pucuk menjadi 3 jenis : silver linings, white tea, sama satu lagi jenis herbal tea. Dari BOPF ke white tea, warna tehnya menjadi ngga terlalu pekat. Kami ditunjukkan cara produksi pabrik teh di Sri Lanka untuk black tea.

Daun teh dipetik manual dari belakang pabrik, lalu dikirim ke lantai 3 menggunakan conveyor, dari sini diangkut manual ke 3 line feeder yang dikeringkan selama 8 jam menggunakan angin. Setelah dari sini, daun teh digiling sampai berukuran setengah kasar kemudian dimasukkan ke dalam dryer (combusting wood) sampai suhu sekitar 1105 deg c selama 20-25 menit, produknya lalu dimasukkan ke dalam vibrating magnetic separator untuk memisahkan daun berwarna kuning emas dengan kompos-nya.

Lalu dimasukkan ke proses terakhir, lupa namanya apa untuk menghasilkan 6 jenis teh, BOPF, BOP, silver linings, green tea, white tea, herb tea. BOPF dan BOP memiliki ukuran super fine, biasa digunakan dalam teh celup & diekspor. Dilmah menggunakan teh ceylon ini, disana harganya IDR 11-13k, dibawa ke Indonesia harganya jadi IDR 60-70k. Ane beli teh BOPF & mango tea seharga LKR 1400, dikomenin sama Partner In Crime, “ngapain beli mango tea, di Indonesia banyak.” Eh ternyata, justru yang paling enak adalah mango tea.

Kami memutuskan skip gems museum, karena bukan penggemar akik & mau ngejar bis ke Nuwara Eliya, pas itu udah jam 12.00 PM, Kami makan chicken curry (lagi) LKR 2365/ppl. Abis itu Kami ke Bahirawakanda Temple di atas bukit (LKR 200), agak susah dapetin foto patung budha warna putihnya, harus agak jauh. Kami dapet pemandangan cantik Kota Kandy dari atas. Pulang dari sini, Kami ke terminal bis Kandy dianter tuk-tuk & ditunjukin bisnya yang mana (saat itu jam 02.30 PM), ada bis non AC dan AC, Partner In Crime ngajakin naik bis AC yang bentuknya kayak elf, LKR 315 selama 3 jam, beda 3x lipat dari bis non AC. Ngecek google maps, bentuk jalannya keriting bakalan mabok darat – ngga bawa antimo, yawes tidur awal buat mengantisipasi mabok kelokan. TIPS! Selama di Sri Lanka, Kami naik tuk2 menuju terminal bis lalu minta ditunjukin bisnya yang mana, it helped.

Ditepok dibangunin Partner In Crime jam 04.30 PM, buat lihat pemandangan kebun teh, komennya “kayak lagi di Puncak”. Kami sampe terminal bis Nuwara Eliya jam 05.30 PM, terus jalan ke pusat kota buat cari makan malam. Lucunya, mata Kami tertuju ke restoran western, tapi hidung Kami mencium aroma sedap yang ngga mungkin berasal dari restoran western karena restorannya tertutup. Sebelahnya ada tempat makan sepi (Grashia Restaurant) tapi ada menu nasi goreng, tulisannya literally nasi goreng bukan fried rice, aromanya pun mirip nasi goreng tek-tek yang lewat depan rumah. Langsunglah Kami nggragas, bosen kari & sakaw masakan Indonesia, Kami makan disini & porsinya pas, LKR 600/ppl (btw yang punya restoran ini bukan orang Indonesia maupun Malaysia, darimana dia tahu istilah nasi goreng, ane pun tak tahu) & stock makanan LKR 565 karena hotel Kami di atas banget. Kami naik tuk-tuk LKR 400 ke atas, sekitar 10 menit via danau ke Scenic View Bungalow (dingin bok, bener kayak puncak), tapi ngga ada orang, akhirnya Kami telepon & minta bantuan sopir tuk-tuk buat ngomong dalam bahasa lokal kalau Kami mau check in. Dengan bantuan translate owner penginapan, Kami booking tuk-tuk LKR 5000 ke Horton National Park & St Claire Waterfall, berangkat jam 05.00 AM.

Untung Kami sudah makan malam di bawah, karena hotel Kami terpencil, view-nya ngga keliatan karena udah gelap, it’s supposed to be great, hotelnya di atas lembah. Ngobrol bentar sama orang dari penginapan, mereka nawarin trip bareng ke Horton National Park naik van dari penginapan, udah dapet 4 orang masih muat 2 orang lagi. Kami nanya mereka ke St Claire ngga & karena Kami langsung check out. Ternyata ngga, yawes Kami ngobrol bentar trus pamit masuk kamar. Dingin bok, disini 13 deg c.

Day 5, Tuesday, 8 Mar 2016. Masih setengah melek, jam 05.00 AM, kami berangkat ke Horton National Park, jalannya nanjak, si tuk-tuk agak berjuang buat naik ke atas. Viewnya keren. Beberapa kali Kami berhenti buat foto sunrise dan kabut yang misty. Pas di atas, Kami baru sadar mostly orang pake jeep, cuma ada 1 tuk-tuk selain Kami. 😀 Jam 06.30 AM, Kami antri tiket LKR 3000 untuk 1 orang dan 1 tuk-tuk. Ngga boleh bawa kantung plastik ke dalam, jadi Kami meminimalisir plastik. Rute Horton National Park berupa loop, bisa diawali dari Mini Worlds End atau Chimney Pool. Kami pengen lihat view scenic dulu, Kami memilih melalui Mini World End & banyak orang menggunakan rute tersebut.

Kami jalan 1.5 jam menuju Mini World End (yang ngga keliatan karena kabut), 1 jam menuju World End & setengah jam menuju Bakers Fall. Mini World End sama World End crowded, memang ane bukan penyuka tempat crowded. Kami sempet nyasar pas mau ke Bakers Fall karena males liat jalan nanjak, milih jalan datar tapi rupanya ke arah toilet, haha. Kami turun jam 11.00 AM, setelah makan biskuit di Bakers Fall (ngga ada yg jual makanan euy). Pulangnya, Kami ngga nemu jalan yang mau ke Chimney Pool, Kami balik menyusuri jalan awal, sekalian liat sapa tau World End sama Mini World End-nya lebih bagus, masih ngga keliatan, karena kabut dari jurang bergerak naik cepat ke atas menyatu dengan awan, awesome moment. Turunnya butuh 2 jam, Kami sampe kafetaria jam 01.00 PM. Jelajah Horton National Park butuh waktu 7 jam termasuk foto-foto 2 jam.

Herannya, ngga ada yang jual es teh, selaku negara penghasil teh. Waiter kafetaria nawarin Kami hot tea sepulang Kami kepanasan trekking, ngga deh pak, makasih. Balik ke tuk-tuk, Kami minta dianter ke western resto di sebelah Grashia Restaurant tempat Kami makan nasi goreng kemarin. Ternyata menunya ngga jauh dari chicken curry, burgernya habis (baru hari ke-5, Kami udah eneg sama kari). Lunch seharga LKR 300/ppl. Lalu Kami dianter ke St Clairs Waterfall sama Devon Waterfalls, ternyata dianter dari depan, bukan ke bawah masuk ke air terjunnya. TIPS! Kalau aik tuk-tuk, pastikan tujuan yang Kalian maksud sama dengan yang dimaksud supir tuk-tuk di awal, juga harga & tujuan akhirnya.

Agak mahal buat ukuran LKR 5000, tapi ya sudahlah, males juga jalan ke waterfallnya, selain sudah sore & turun hujan. Kami lanjut ke Hatton Bus Station dengan additional fee LKR 1000 (kemarin bilangnya LKR 5000 sudah sampe Hatton Bus Station). Ngga ada direct bus dari Hatton ke Dalhouse, Kami pindah bis di Maskeliya, seharga LKR 180/ppl, it takes time 2h Kami sampe Wathsala Inn (bis berhenti di depan penginapan) jam 06.00 PM. Karena ngga lihat tanda-tanda kehidupan kota, Kami memutuskan makan di hotel seharga USD 8.5 atau LKR 1615 (mahal) & jam 08.30 PM Kami mencoba tidur karena besok jam 02.00 AM harus bangun pagi & mendaki Adams Peak 7h (hiking more than 5h – 3 days in a row, LOL, something I didn’t do in Indonesia). Hotelnya agak mahal USD 37/room, jadi kami bayar pakai dolar supaya LKR-nya cukup untuk ikut full trip Yala National Park.

Day 6, Wednesday, 9 Mar 2016. Jam 01.30 AM Kami bangun, cuci muka, gosok gigi, trus pake jaket tebel & ngga bawa senter karena di atas udah terang katanya. TIPS! Bawa senter (Lampu dinyalain pas Kami kesana karena Maret-April lagi pilgrimage sesion) & handuk kecil atau baju ganti, karena baju bakalan basah kena keringat. Rute belum terasa berat 1.5 jam awal, Kami berhenti sekali mampir warung beli teh manis hangat LKR 100 mengusir dingin akibat keringat. Setelah itu jalan nanjak pake tangga, Kami berhenti tiap 3 tiang lampu buat istirahat 15 detik, ngatur nafas trus lanjut, bule-bule bablas ngga pake berhenti. Kejadian lucunya, Kami sempet diajak ngobrol pake Bahasa Cina sama 2 turis cewek Asia yang Kami balas pakai muka cengok, trus dia minta maaf karena dikiranya Kami orang Cina. TIPS! Kalau mau trekking dengan patokan situs bule, tambahkan 1 jam untuk orang Asia & sebaiknya ngga maksain pace hiking, it’s not a race.

2 jam kemudian Kami hampir sampai atas, kalau udah ngos-ngosan Kami bercanda dengan nunjuk bintang sebagai destinasi akhirnya biar ngga kena PHP, destinasi udah deket, haha. Setengah jam terakhir, tangga ke atas agak padet, ane sudah curiga di atas bakal crowded banget karena banyak orang turun sebelum sunset, pas itu jam 05.00 AM. Pas udah di atas, semua spot penuuh, ngga bisa lihat sunrise, karena lagi musim pilgrimage. Ane lihat ada nenek yang susah jalan dipapah sama anaknya, anak kecil digandeng ibunya, semangat orang-orang yang mau berdoa kesini patut diacungi jempol. Ane sempet dikasih bunga teratai, karena mempersilahkan monk untuk turun duluan di tangga yang crowded, senyumnya damaai banget. Setelah muter & lihat ngga ada spot buat foto sunrise, Kami buru-buru turun untuk cari spot, ternyata turunnya macet.

Setelah ada spot agak oke & ngga terlalu crowded, ane manjat keluar jalur & duduk di atas batu, menikmati pemandangan sunrise VIP (di Indonesia pas lagi gerhana matahari total). Those golden moment ketika matahari bersinar yang hanya sekian detik, itu oke banget. Jam 06.30 AM Kami turun, asumsi turun 3 jam, katanya setelah jam 9 pagi, suhu naik cepat. Ane salut sama orang sini, mereka menyediakan tandu yang diangkat 4 orang untuk lansia yang sudah tidak kuat jalan. Turunnya emang PR, karena udah ngga ada tujuan yang mau dicapai, kayak ngga sampe-sampe. TIPS! Kasih waktu istirahat buat lutut, karena turun lebih berat dari naik. Jam 08.00 AM, Kami sudah melewati area terjal, gerbang masuk Adams Peak baru keliatan 1 jam kemudian. Keluar dari gerbang ke jalan raya memerlukan 15 menit. Eh ternyata Kami nemu 1 tempat makan, Galle Cafe, deket terminal Dalhouse. Ane pesen teh tarik sama omelette buat makan pagi + siang, LKR 470.

Sampe hotel jam 10.00 AM, Kami tanya resepsionis jam berapa bis ke Hatton lewat, jam 12.00 PM. Kami sempat tidur 1 jam, mandi, packing & naik bis yang langsung turun di Hatton Railway Station menuju Ella (Kami tanya ke petugas terminal, bisnya yang mana), harga tiket bis LKR 140/ppl & harga tiket kereta 2nd class LKR 320/ppl berangkat jam 02.30 PM. Kami sengaja naik kereta dari Hatton ke Ella, karena katanya merupakan salah satu scenic view, viewnya berupa kebun teh, kayak di Puncak. Rada rame keretanya, jadi rebutan tempat duduk. 😀 Kami bingung pas naik kereta ini, kok 2nd class-nya bagus dibanding keretake Polonnaruwa, kata Partner In Crime, “kayaknya waktu itu kereta yang Kita naiki 3rd class.”

Kami sampai stasiun Ella jam 06.22 PM, lalu jalan kaki ke arah Rotti Hut, buat makan malam. Ngga cocok menunya, Kami naik ke lantai 2, Ane surprised nemu beef LKR 2253, trus pesen, not a wise choice kalo dipikir lagi, hanya karena bosen kari ayam. Kami naik tuk2 dari depan restoran LKR 250 ke Will Guest Homestay, Kami tunjukin alamatnya, sopir tuk2nya mau, asumsi Kami dia tahu tempat. Pas udah di atas, sopirnya marah2 karena jalan jelek, gelap & kesasar, dia ngga mau ngomong via telp sama owner homestay-nya buat tahu arah. Akhirnya owner penginapan jemput Kami naik tuk2 free, dia nunggu Kami di depan stasiun Ella pakai tulisan nama penginapan, Kami ngga tahu. 3 hari lagi pulang, sementara sisa data masih banyak, ane nonton Running Man sebagai penutup hari. :3

Lanjut ke Part 3 yaa.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s