Cara Berkomunikasi Efektif


Hah? Ngga salah tuh, judulnya? Bukannya ini blog jalan-jalan? Masih kok. Beberapa hari kemarin, kepikiran suatu teori dan rasanya agak mengganjal kalo ngga dituangkan ke dalam tulisan dan dibagikan ke readers. 🙂

Berawal dari 3 Februari 2017, ane diminta sama HR kantor buat ngisi materi psikologi “DISC” untuk fresh graduate. Sebelumnya, Kami sudah ditraining Training For Trainers (TFT) & ane dapet materi 7 habits buat latihan. Berhubung jadwalnya ngga pas, materi ane diswitch. Sebelumnya pas di TFT, ane belum ngeh sama materi “DISC”, niatnya nyiapin materi 2 minggu sebelum penugasan. Apa daya jadwal di divisi padet, belum baca bahan sampe malem sebelumnya. Setelah diskusi sama fasilitator & baca artikel tentang “DISC”, ane nemu materi yang bagus di pinterest. Dari situ, ane baru ngeh manfaat “DISC”. “DISC” merupakan model komunikasi 2 arah, untuk memperbesar open area kita sehingga diketahui publik, dengan cara memperkecil area blind spot (area diri kita yg tdk kita ketahui) dan memperkecil area hidden (area diri kita yg tdk banyak diketahui orang lain). Blind spot diketahui dengan cara banyak bergaul, sehingga kita mendapat feedback dari orang lain. Bisa jadi Kita merasa tidak demikian, namun ketika banyak orang yang mengatakan hal yang sama, berarti itulah blind spot kita. Misalnya, ane membuat presentasi yang isinya cukup detail dan melakukan presentasi dalam tempo standar. Ternyata ane mendapat masukan bahwa presentasi ane berisi data yg terlalu padat & tidak semua orang mengerti isi presentasi karena penjelasannya terlalu cepat. Masukan yang berharga. Hidden area diperbesar dengan cara memberitahukan informasi / motif / pemikiran / kebiasaan kita yg selama ini belum diketahui oleh orang lain. Sejauh apa penyampaian hidden informasi bergantung dg tingkat kenyamanan dan kepercayaan kita kepada orang lain. Dulu, kalo ada yang tanya, mendingan S2 dulu atau kerja dulu, ane belum bisa jawab, karena belum pernah mengalami keduanya. Sekarang, ane bisa memberikan sedikit insight, dua2nya punya kelebihan & kelemahan. Kalo kerja dulu, kelebihannya setelah selesai S2, sudah ada pengalaman saat melamar kerja. Kelemahannya, karir tertinggal 2 tahun dg rekan2 seangkatan. Kalo kuliah dulu, kelebihannya hemat waktu, selesai kuliah bisa fokus ke karir. Kelemahan, belum ada pengalaman saat melamar kerja. Personally, I chose S2 sambil bekerja, jadi ngga rugi waktu. Tujuan “DISC” ini tidak lain adalah untuk dapat melakukan komunikasi scr efektif. Dengan komunikasi yg efektif, diharapkan tim dapat meraih level kepercayaan yang tinggi antar anggota tim, shg target tim tercapai. Semakin besar targetnya, semakin penting peran komunikasi yg efektif dalam tim tersebut. 

Teorinya berkata seperti itu. Ane ngga kepikiran lagi, sampai sebulan kemudian ane mendapat task force kerjaan. Ane dapet penugasan khusus buat tracking progress proyek, katanya sih, ane cocok sama tugas ini, karena galak kalo molor, jadi pd semangat setor evidence 😂 Tim ini merupakan tim kecil yg terpisah dg tim besar, namun dg tujuan akhir simultan, terdapat perbedaan cara komunikasi. 1 perkataan dapat diinterpretasikan berbeda oleh banyak kepala. Membuat ane berpikir, gimana ya cara menyampaikan maksud scr efektif shg org lain mampu menginterpretasikan sesuai dg maksud kita? Ini mudah bagi INTJ. Karena ngga biasa tedeng aling-aling, ngomong maksudnya secara langsung, ngga pake pembuka -penutup – basa basi. Begin with end in mind, menjelaskan tujuan akhirnya (selling idea) dan manfaat yg diperoleh mereka. Yang masih menjadi bahan pemikiran adalah, apakah kita dapat berubah langsung menjadi orang yg bisa berbicara direct? Ane belum tahu jawabannya. Sebelum mencapai tahap itu, sptnya bs dimulai dg mencoba memanage waktu dg lebih efektif. Misal dg fokus tinggi shg dlm 1 hr bisa menyelesaikan 3-5 tugas sedang-berat dr tadinya 3 tugas ringan, mencari akar permasalahan yg muncul serta memunculkan solusi right to the spot, itu dulu, otaknya mampet udah jam setengah 12 malem 😂 laen kali disambung. 

Advertisements

3 thoughts on “Cara Berkomunikasi Efektif

  1. inem March 6, 2017 / 9:40 am

    kalo komunikasi biar gak SA lagi gmana bu? *dudududuuduuu

    • travellingaddict March 6, 2017 / 10:04 am

      Bahaha, itu berarti bahasa penyampaiannya terlalu canggih atau receivernya lemah sinyal 😂 bangun bts dulu sus atau invest penguat sinyal, wkwk (baca: yg mampu mentranslate buat pacarnya)

      • inem March 6, 2017 / 10:45 am

        hhaaa..?? gmana gmanaa?? koq bisa lari ke pacar yaaa..?? duuhhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s